Selasa, 26 Januari 2016

Cara Paling Mudah Ngajarin Anak Nulis Puisi


Cara Paling Mudah Ngajarin Anak Nulis Puisi

TERKADANG orangtua atau guru merasa tidak yakin bisa mengajar anak menulis puisi. Selain karena kemampuan orangtua atau guru dalam nulis puisi (mungkin) kurang, merasa tidak perlu, tidak ada waktu, bisa juga karena tidak tahu bagaimana cara paling mudah ngajar anak nulis puisi.
Lelaki Berciput bukan penulis puisi, meski pun pada awal-awal nulis dahulu lebih sering nulis puisi daripada cerpen, artikel, ngeblog atau buku. Dia juga bukan penyair yang puisinya dibicarakan para kritikus, dia hanya penyuka puisi. Akan tetapi, bukan berarti tidak berusaha mencari cara paling mudah bagaimana ngarin anak nulis puisi.
Setelah beberapa kali memberikan workshop nulis kepada anak-anak dan guru di beberapa daerah seperti Bontang, Lampung, Surabaya, Medan, Bengkulu, dan beberapa daerah lainnya, akhirnya Lelaki Berciput menemukan cara paling mudah ngajarin anak nulis puisi. Bahkan cara tersebut tertuang dalam buku Fun Writing yang dia tulis.
Cara tersebut kemudian diterapkan kepada anak-anaknya, mulai dari anak pertamanya yang pada saat tips ini ditulis sudah kelas 6 SD, anak keduanya yang sudah kelas 4 SD, dan anak terakhirnya yang baru kelas 2 SD.
Khusus untuk anak terakhirnya, puisi-puisinya bahkan sudah dimuat oleh Peer Kecil. Lembar anak yang diterbitkan seminggu sekali oleh Harian Umum Pikiran Rakyat Jawa Barat. Bagaimana cara paling mudah ngajarin anak nulis puisi? Berikut ini caranya.
***
Cara Paling Mudah Ngajarin Anak Nulis Puisi
Contoh Puisi Fairy Dimuat di PR Kecil (Foto Kang Alee)

6 Tahap Ngajarin Anak Nulis Puisi
Pertama beri tahu terlebih dahulu apa itu puisi dengan bahasa yang mudah dipahami. Lelaki Berciput tidak memberikan arti puisi secara teoritis, dia hanya menjelaskan jika puisi itu cerita pendek yang ditulis dengan bahasa yang pendek. Biasanya terdiri dari beberapa paragraf. Setiap paragraf terdiri dari 4 baris saja.
Mungkin secara teori agak melenceng, tetapi Lelaki Berciput tak khawatir karena pada saatnya nanti anak-anak pasti akan mendapatkan arti puisi secara teori yang dirumuskan para ahli bahasa kelas atas. Rumusan yang terkadang sulit dimengerti.
Kedua cari ide nulis puisi. Ide juga tidak perlu dijelaskan maknanya secara Kamus Besar Bahasa Indonesia, cukup meminta anak-anak mencari apa yang akan ditulis. Misalnya akan menulis tentang Kepala, Mata, Tangan, Kaki, Bunda, Ayah, Kakak, Adik, Sepeda, Buku, Makanan, Minuman, Alam Semesta, dan sebagainya. Kita bebaskan anak-anak, bahkan jika pun anak-anak akan menulis tentang teman di bawah tempat tidurnya pun tak masalah.
Ide-ide yang akan ditulis kemudian ditulis secara berurutan dengan angka di buku khusus. Tujuannya, agak anak-anak bisa memilih ide mana yang akan ditulisnya terlebih dahulu dan mana ide yang akan ditulis nanti. Dengan list ide tersebut, mau tidak mau anak-anak akan mencoba konsisten nulis setiap hari, setiap minggu, atau setiap bulan, minimal satu puisi.
Ketiga menceritakan Ide. Setelah ide yang akan ditulis dipilih, bantu anak-anak menceritakan secara luas idenya tersebut. Anak-anak bisa dipancing dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat anak berpikir.
Misalnya saja, ide yang akan ditulis tentang Sepeda, kita bisa memancing dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Sepeda warna apa?” “Bentuknya seperti apa?” “Ada rantainya?” “Ada pedalnya?” “Ada rantainya?” “Rantainya pernah lepas?” “Kapan sepedanya dibeli?” “Biasanya kapan naik sepeda?” “Apa kamu suka dengan sepeda kamu?” “Apa kamu sayang dengan sepeda kamu?” “Kenapa kamu sayang dengan sepeda kamu?” “Kamu sayang sepeda kamu seperti kamu sayang siapa?” dan pertanyaan-pertanyaan yang makin memperkaya ingatan anak-anak.
Jangan lupa, setiap jawaban yang keluar dari mulut anak, minta anak langsung mencatatnya di lembaran khusus. Lembaran inilah yang nanti akan menjadi bekal anak merangkai kata menjadi sebuah puisi yang indah.
Keempat memilih kata yang telah dicatat. Tahap keempat ini saat yang paling menentukan apa puisinya akan terangkai dengan baik dan menjadi sebuah cerita yang manis atau sebaliknya menjadi puisi yang tak bercerita.
Pengalaman Lelaki Berciput, selagi tahap ketiga dilakukan dengan baik dan daftar kalimat yang telah dilisting banyak, anak-anak akan mudah memilih dan merangkainya menjadi sebuah puisi yang manis. Orangtua atau guru tinggal membantu ketika anak-anak kesulitan. Membantu memilihkan alur supaya cerita yang dirangkai dalam bentuk puisi itu runut.
Kelima membahas puisi yang telah ditulis. Tahapan ini dilakukan tak lain dan tak bukan supaya pesan yang ingin disampaikan dalam puisi sampai. Kata yang dipilih anak-anak tepat. Kalimat yang dirangkai menjadi makin indah. Ingat, hanya membahas bukan memilihkan kata atau kalimat yang menurut orangtua atau guru tepat.
Biasanya yang dilakukan Lelaki Berciput membahas satu persatu kalimat yang ditulis. Apa kalimat itu bisa dipahami? Apa kalimat itu gampang diucapkan? Apa kalimat itu enak didengar? Apa kalimat itu ketika dibaca bisa diekspresikan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut ternyata cukup membuat anak-anak memikirkan kembali kalimat yang dia pilih.
Setelah membahas perkalimat, baru kemudian bahas perparagraf. Kembali pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas ditanyakan kepada anak-anak. 
Cara Paling Mudah Ngajarin Anak Nulis Puisi
Bermain-main di Pantai (Foto Kang Alee)
Keenam editing. Jangan membayangkan, editing yang dilakukan itu seperti mengedit puisi yang bernilai sastra tinggi atau malah sangat tinggi ya, cukup edit sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pada tahapan kelima. Tak usah persoalkan apakah cara penulisannya benar atau salah, ejaannya benar atau salah, cukup menyempurnakan supaya kalimatnya makin indah seindah sebuah lagu atau kalimatnya berima. Jika editing ini berhasil dilakukan, dijamin puisi yang ditulis anak-anak itu telah sempurna.
Puisi bagi anak-anak hanyalah cara berkomunikasi. Puisi bagi anak-anak hanyalah melatih berbahasa yang baik. Puisi bagi anak-anak hanyalah sebuah ekspresi. Jadi, jangan pernah membuat mereka susah apalagi kesulitan dalam menulis puisi.
Selain keenam langkah di atas, sesekali ajak anak-anak jalan-jalan ke pasar, mengitari kota, naik becak, naik ojek, naik angkot, atau jalan-jalan ke gunung, melihat hutan hutan, melihat pantai, merasakan deburan pantai. Itu akan memperkaya pengalaman mereka.
Itulah cara paling mudah ngajarin anak-anak nulis puisi yang selama ini dilakukan oleh Lelaki Berciput. Alhamdulillah, dengan cara seperti itu, puisi yang ditulis anak-anak yang pernah belajar nulis puisi diterima media dengan baik. Media memberi apresiasi dengan memuatnya dalam rubrik khusus anak-anak. Mau ngajarin anak-anak nulis puisi dengan mudah? Coba saja cara di atas. Selamat mencoba.
@KreatorBuku

Berikut ini contoh puisi yang ditulis Fairy Shaliha yang baru kelas 2 SD. Beberapa puisinya dimuat di lembar anak-anak Peer Kecil HU Pikiran Rakyat Jawa Barat.

Buku Cerita
Oleh Fairy Shaliha

Kulihat sebuah buku
Bersampul warna biru
Penuh dengan lagu lagu
Membuat ku terpaku

Tiap malam ku buka
Tiap malam ku baca
Aku senang karena nya
Karena kau lah Buku Cerita

Pantai
Oleh Fairy Shaliha

Dengan pasir yang luas
Ombak yang bergelombang
Angin yang sejuk
Sinar mentari yang hangat
Pohon yang tinggi
Membuatku senang
Bermain bersamamu
Pantai

Sepedaku
Oleh Fairy Shaliha

Aku punya sepeda
Berwarna  biru tua
Setiap sore aku mengayuhnya
Menuju masjid
Untuk mengaji

Sepeda menemaniku
Setiap hari
Seperti sahabat sejati
Aku akan menjaganya sepenuh hati

Borobudur
Oleh Fairy Saliha

Kau sangat bersejarah
Kau sangat hebat
Kau sangat indah
Membuatku takjub saat melihatmu

Walau tersusun dari tumpukan batu
Kau sangat kokoh
Kau sangat kuat
Kau sangat gagah
Membuatku takjub saat melihatmu
Borobudur



16 komentar:

  1. Kalo di renungkan dan di resapi, saya saja buat puisi jelek banget. tapi sudah baca ini anak saya harus lebih bagus ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk-hayuk ... pasti bisa, pasti bisa. Semangat Mas

      Hapus
  2. Bpk yg kereeen anak yg tak kalah keren

    BalasHapus
  3. whuaa kereen inih..
    kalaah tante nchie hikss

    BalasHapus
  4. Mantap mas....pengikut jejak bapake..buah jatuh g jauh dari pohonnya yaa mas ternyata...kecuali ditendang hhhee,,,ayoo tularkan juga ma yang lain yaaa


    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, hayuk belajar sama-sama Mbakyu. Nggak ada yang nggak mungkin kan?

      Hapus
  5. yang jadi masalah kalo belum punya anak gimana iniiiiiiih hikh hiks

    BalasHapus
  6. Baru tahu ada rubrik itu di PR boleh minta alamat Email ya mas, adik saya mau saya motivasi untuk mengirim. Nuhun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh, Silahkan langsung ke sini ya percil@pikiran-rakyat.com

      Hapus
  7. Wah, bermanfaat. Kebetulan, krucil di rumah juga mau ikut lomba di sekolah. Nuhun Kang Alee...

    BalasHapus
  8. waah menulis sejak dini, apa itu mungkin? menulis puisi bukan hal yang mudah, sebenarnya, tapi bukan juga perkara sulit. Tapi untuk anak usia dini apakah ia benar-benar bisa menikmati setiap tulisannya? menikmati ungkapannya? tapi memang perlu dicoba, sangat inspiratif. terima kasih

    BalasHapus

Ditunggu Komentarnya Teman-Teman

Blog Archive

Komentar